SALAH PERSEPSI TARI SAMAN
Di tengah-tengah persaingan budaya barat dan budaya nusantara, adalah tari saman sebagai salah satu oase di tengah padang persaingan. Banyak sekolah menyuguhkan ekstrakulikuler tari samaan sebagai daya pikatnya. Tarian ini digemari semenjak terdaftar di UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Bangsa Indonesia berbangga hati mendengarnya.
Namun masalah baru timbul. Ketika semua bangga dengan tari saman tapi tidak tahu bagaimana wujudnya. Tari saman yang terdaftar di UNESCO sebenarnya adalah tarian yang ditarikan oleh laki-laki, bukan perempuan. Tarian ini memang sama-sama berasal dari Aceh. Namun, beda penari dan pakemnya.
Agar tidak ada lagi salah persepsi di antara kita, saya jelaskan sedikit tentang tarian yang banyak diikuti siswa perempuan ini. Tarian yang diajarkan di ekstrakulikuler sekolah saat ini sebenarnya bernama "Tari Ratoeh Jaroe". Nama Ratoeh Jaroe ini pun baru di launching pada 19 Mei 2012 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Launching ini pun berkenaan dengan hadirnya polemik kesalahpahaman nama tarian. Para panelis yangbeberapa di antaranya adalah pengajar tari tersebut berharap kabar ini bisa disebarkan dengan baik dan merata. Mereka pun menyarankan agar pelatih tidak membiarkan anggota tarinya mengikuti lomba tari saman, kecuali nama lombanya diganti menjadi "Lomba Tari Ratoeh Jaroe"
Jadi, untuk para penari jangan hanya tau manggung saja ya.. Jangan sampai pengetahuan budaya kita lebih dipahami oleh orang asing, di klaim, dan kita hanya bisa menontonnya sambil marah-marah. 
love you kak zul....
ReplyDelete#HidupRatoehJaroeh