KARIR YANG TUMBUH TAK PERNAH JAUH DARI BNI
Terkadang kita tidak
sadar telah meniti perjalanan jauh bersama beberapa orang yang tidak kita anggap
berperan penting untuk hidup kita. Beberapa yang lewat kadang terlupa begitu
saja. Seperti hujan yang turun memberi sejuk dan berlalu dengan meninggalkan
biasnya. Ada pula yang selalu mendampingi
tapi dianggap tidak ada. Seperti udara yang selalu dihirup setiap saat sampai
hayat menyatakan kau tak lagi dapat menikmatinya.
Mungkin inilah yang
dinamakan jodoh pasti bertemu. Kini aku berprofesi sebagai bendahara rumah
tangga yang sedang hamil anak pertama. Ketika masih berstatus lajang aku sangat
kesulitan mengatur keuangan. Rasa memiliki uang sendiri itu membuatku boros dan
hidup berfoya-foya. Tidak bisa memegang uang banyak-banyak. Karena berapa pun
jumlahnya kalau ada di dompet pasti habis. Padahal saat itu aku belum
sepenuhnya lepas dari beasiswa orang tua (uang jajan). Tapi anak kuliah
semester enam ini jadi merasa kaya ketika memiliki penghasilan tetap sebesar enam
ratus ribu rupiah perbulan dari hasil melatih tari Ratoeh Jaroe atau yang
dikenal dengan nama Tari Saman.
Di tahun 2012 alhamdulillah
aku telah menyelesaikan studiku di Universitas Islam Negeri Jakarta. Ijazah
belum didapat tapi pekerjaan baru, datang merapat. Aku mulai mengajar Bahasa
Indonesia dan Musik di salah satu sekolah ternama di Bintaro. Ketika menghadap
TU, aku diminta untuk membuka rekening baru di BNI Syariah. Ini saatnya
menggunakan peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Tepat di samping kampus
yang tak lain diseberang kos-kosanku telah berdiri kokoh Bank BNI beserta
sederet ATMnya. Itu artinya aku tidak perlu pergi jauh untuk membuka rekening
baru.
Tertanggal 2 Oktober
aku mendapat gaji pertamaku yang jumalahnya cukup besar dari sekolah itu.
Sistem gaji yang dibayarkan secara non tunai ini membuatku lebih hemat. Mampu
menerapkan penggunaan uang secukupnya. Dari sini lah perekonomian mandiri
secara teratur tumbuh bersemi. Secara tidak langsung gaji yang mengendap karena
tidak kuambil menjadi tabungan yang lumayan nominalnya.
Bulan demi bulan
berlalu. Di malam yang penuh bintang, ayahanda memberikan titahnya. Ia yang
bekerja sebagai salah satu staf Kementrian Agama memintaku menjadi anggota
Penyuluh Agama Honorer (PAH) di ruang lingkup kecamatan tempat tinggal kami.
Pekerjaannya adalah memberikan tausiah dan pengajaran agama di Masjid dan
Majelis Taklim. Beliau pun memberikan iming-iming, “Selain mendapatkan ridho
dari Allah swt, kamu juga mendapatkan upah. Tidak banyak, tapi cukup untuk
disebut sebagai bonus dari menyiarkan agama islam”.
Singkatnya aku
terpilih menjadi salah satu anggota PAH tersebut. Lalu kami difasilitasi Bank
BNI untuk mendapatkan honor kami. Honor dari PAH ini tidak diberikan perbulan,
melainkan empat bulan sekali. Itu pun terkadang tidak jelas sudah “cair” atau
belum. Alhasil ketidakjelasan ini membuat aku bolak-balik ATM. Dari honor yang
minimalis itu muncul kekhawatiran akan dikenakan biaya setiap cek saldo. Tapi
ternyata tidak. Selain itu tarik tunai di ATM BNI pun tidak dikenakan biaya apa
pun. Menurutku ini sangat memudahkan dan menguntungkan. Satu lagi yang paling
terasa, di BNI untuk menabung dan print buku tabungan sangat mudah, hanya perlu
ambil nomor antrean, menunggu, dan tanda tangan. Beda dengan bank lain, semua
transaksi harus ditulis dahulu di formulir yang telah tersedia. Jadi rutenya
adalah ambil nomor, pilih form, mengisi form, mengantre, melakukan transaksi,
dan tanda tangan. Dari hal ini saja BNI sudah terlihat lebih unggul dengan
sifat praktisnya.
Di tahun berikutnya
aku harus pulang ke tanah kelahiran. Meninggalkan pekerjaan dan gaji yang
gemilang. Ibunda butuh bantuan, aku pun pulang. Ibuku adalah kepala sekolah di
Raudatul Athfal (Sekolah setingkat TK dibawah naungan Kementrian Agama). Sebenarnya
sejak tahun 2010 aku sudah mulai mengajar di sana. Namun sempat berhenti dan
masuk lagi sebagai guru lukis dan tari saja. Di Tahun 2013 murid yang daftar
turun lebih dari 50%. Hal ini dikarenakan guru yang mengajar melakukan tindakan
kriminal berupa korupsi. Parahnya, hal ini dilakukan oleh tiga guru dalam
jangka waktu bertahun-tahun. Ibuku baru menyadari bahwa kepercayaannya telah
dibalas dengan air tuba. Aku geram, aku pulang, aku memiliki misi mengembalikan
nama baik sekolah dan mengahadirkan murid baru yang lebih banyak.
Di tempat baru ini
gajiku dibayar tunai. Jumlahnya tidak seberapa, aku tidak lagi bisa membelikan
hadiah atau sekedar makanan kesukaan ayah dan ibu sesering dulu. Tapi aku yakin
bahwa anak yang berbakti tidak memiliki arti sempit sebagai anak yang mampu
memberi uang atau hadiah lebih banyak. Berbakti juga bisa dilakukan dengan
menuruti kehendak orang tua secara ikhlas, bahkan memijat pundaknya pun bisa
dikategorikan berbakti. Maka keliru lah anak-anak yang meninggalkan orang
tuanya untuk bekerja mendapatkan uang lebih, sedangkan orang tuanya lebih rindu
dengan pertemuan bukan dengan si uang. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa lebih
bagus lagi kalau pertemuan anak dan orang tua dibarengi dengan sejumlah uang.
Dengan bangga aku
menyatakan lagi-lagi aku berjodoh dengan Bank Negara Indonesia ini. Ternyata
BNI bekerja sama dengan pengadaan tunjangan fungsional guru Raudatul Athfal. Adanya
kerjasama BNI dengan berbagai lembaga, membuatku tidak perlu mengatakan selamat
tinggal. Lagipula rasanya aku tidak ingin berpaling ke bank lain. Karena ATM
BNI sangat mudah ditemukan dan kartunya bisa digunakan untuk pembayaran non
tunai saat keadaan mendesak.
Seperti prolog yang
kutuliskan sebelumnya. Kehadiran BNI tak pernah terasa penting sebelumnya.
Namun ketika harus berurusan dengan bank lain, dengan fasilitas dan kenyamanan
yang berbeda dengan BNI. Barulah terasa bahwa BNI memiliki arti penting
disepanjang karirku. Menjadi perantara
gaji pertamaku, menjadi menejer keuanganku, bahkan hanya dengan menggesek
kartunya ketegangan antara aku dan kasir atau pelayan restoran bisa mencair bahkan
ditutup dengan 3S (senyum, sapa, salam).
Sampai saat ini saya
masih berhubungan baik dengan BNI, masih mengandalkan BNI untuk membantu
peredaran keuangan serta berpartisipasi dalam memeriahkan ulang tahun BNI yang
ke-69. Selamat ulang tahun BNI, semoga kehadiran Anda selalu membawa berkah
bagi nasabah. Aamiin..
No comments:
Post a Comment