Wednesday, August 5, 2015

KARIR YANG TUMBUH TAK PERNAH JAUH DARI BNI

Terkadang kita tidak sadar telah meniti perjalanan jauh bersama beberapa orang yang tidak kita anggap berperan penting untuk hidup kita. Beberapa yang lewat kadang terlupa begitu saja. Seperti hujan yang turun memberi sejuk dan berlalu dengan meninggalkan biasnya.  Ada pula yang selalu mendampingi tapi dianggap tidak ada. Seperti udara yang selalu dihirup setiap saat sampai hayat menyatakan kau tak lagi dapat menikmatinya.

Mungkin inilah yang dinamakan jodoh pasti bertemu. Kini aku berprofesi sebagai bendahara rumah tangga yang sedang hamil anak pertama. Ketika masih berstatus lajang aku sangat kesulitan mengatur keuangan. Rasa memiliki uang sendiri itu membuatku boros dan hidup berfoya-foya. Tidak bisa memegang uang banyak-banyak. Karena berapa pun jumlahnya kalau ada di dompet pasti habis. Padahal saat itu aku belum sepenuhnya lepas dari beasiswa orang tua (uang jajan). Tapi anak kuliah semester enam ini jadi merasa kaya ketika memiliki penghasilan tetap sebesar enam ratus ribu rupiah perbulan dari hasil melatih tari Ratoeh Jaroe atau yang dikenal dengan nama Tari Saman.

Di tahun 2012 alhamdulillah aku telah menyelesaikan studiku di Universitas Islam Negeri Jakarta. Ijazah belum didapat tapi pekerjaan baru, datang merapat. Aku mulai mengajar Bahasa Indonesia dan Musik di salah satu sekolah ternama di Bintaro. Ketika menghadap TU, aku diminta untuk membuka rekening baru di BNI Syariah. Ini saatnya menggunakan peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Tepat di samping kampus yang tak lain diseberang kos-kosanku telah berdiri kokoh Bank BNI beserta sederet ATMnya. Itu artinya aku tidak perlu pergi jauh untuk membuka rekening baru.

Tertanggal 2 Oktober aku mendapat gaji pertamaku yang jumalahnya cukup besar dari sekolah itu. Sistem gaji yang dibayarkan secara non tunai ini membuatku lebih hemat. Mampu menerapkan penggunaan uang secukupnya. Dari sini lah perekonomian mandiri secara teratur tumbuh bersemi. Secara tidak langsung gaji yang mengendap karena tidak kuambil menjadi tabungan yang lumayan nominalnya.

Bulan demi bulan berlalu. Di malam yang penuh bintang, ayahanda memberikan titahnya. Ia yang bekerja sebagai salah satu staf Kementrian Agama memintaku menjadi anggota Penyuluh Agama Honorer (PAH) di ruang lingkup kecamatan tempat tinggal kami. Pekerjaannya adalah memberikan tausiah dan pengajaran agama di Masjid dan Majelis Taklim. Beliau pun memberikan iming-iming, “Selain mendapatkan ridho dari Allah swt, kamu juga mendapatkan upah. Tidak banyak, tapi cukup untuk disebut sebagai bonus dari menyiarkan agama islam”.

Singkatnya aku terpilih menjadi salah satu anggota PAH tersebut. Lalu kami difasilitasi Bank BNI untuk mendapatkan honor kami. Honor dari PAH ini tidak diberikan perbulan, melainkan empat bulan sekali. Itu pun terkadang tidak jelas sudah “cair” atau belum. Alhasil ketidakjelasan ini membuat aku bolak-balik ATM. Dari honor yang minimalis itu muncul kekhawatiran akan dikenakan biaya setiap cek saldo. Tapi ternyata tidak. Selain itu tarik tunai di ATM BNI pun tidak dikenakan biaya apa pun. Menurutku ini sangat memudahkan dan menguntungkan. Satu lagi yang paling terasa, di BNI untuk menabung dan print buku tabungan sangat mudah, hanya perlu ambil nomor antrean, menunggu, dan tanda tangan. Beda dengan bank lain, semua transaksi harus ditulis dahulu di formulir yang telah tersedia. Jadi rutenya adalah ambil nomor, pilih form, mengisi form, mengantre, melakukan transaksi, dan tanda tangan. Dari hal ini saja BNI sudah terlihat lebih unggul dengan sifat praktisnya.

Di tahun berikutnya aku harus pulang ke tanah kelahiran. Meninggalkan pekerjaan dan gaji yang gemilang. Ibunda butuh bantuan, aku pun pulang. Ibuku adalah kepala sekolah di Raudatul Athfal (Sekolah setingkat TK dibawah naungan Kementrian Agama). Sebenarnya sejak tahun 2010 aku sudah mulai mengajar di sana. Namun sempat berhenti dan masuk lagi sebagai guru lukis dan tari saja. Di Tahun 2013 murid yang daftar turun lebih dari 50%. Hal ini dikarenakan guru yang mengajar melakukan tindakan kriminal berupa korupsi. Parahnya, hal ini dilakukan oleh tiga guru dalam jangka waktu bertahun-tahun. Ibuku baru menyadari bahwa kepercayaannya telah dibalas dengan air tuba. Aku geram, aku pulang, aku memiliki misi mengembalikan nama baik sekolah dan mengahadirkan murid baru yang lebih banyak.

Di tempat baru ini gajiku dibayar tunai. Jumlahnya tidak seberapa, aku tidak lagi bisa membelikan hadiah atau sekedar makanan kesukaan ayah dan ibu sesering dulu. Tapi aku yakin bahwa anak yang berbakti tidak memiliki arti sempit sebagai anak yang mampu memberi uang atau hadiah lebih banyak. Berbakti juga bisa dilakukan dengan menuruti kehendak orang tua secara ikhlas, bahkan memijat pundaknya pun bisa dikategorikan berbakti. Maka keliru lah anak-anak yang meninggalkan orang tuanya untuk bekerja mendapatkan uang lebih, sedangkan orang tuanya lebih rindu dengan pertemuan bukan dengan si uang. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa lebih bagus lagi kalau pertemuan anak dan orang tua dibarengi dengan sejumlah uang.
Dengan bangga aku menyatakan lagi-lagi aku berjodoh dengan Bank Negara Indonesia ini. Ternyata BNI bekerja sama dengan pengadaan tunjangan fungsional guru Raudatul Athfal. Adanya kerjasama BNI dengan berbagai lembaga, membuatku tidak perlu mengatakan selamat tinggal. Lagipula rasanya aku tidak ingin berpaling ke bank lain. Karena ATM BNI sangat mudah ditemukan dan kartunya bisa digunakan untuk pembayaran non tunai saat keadaan mendesak.

Seperti prolog yang kutuliskan sebelumnya. Kehadiran BNI tak pernah terasa penting sebelumnya. Namun ketika harus berurusan dengan bank lain, dengan fasilitas dan kenyamanan yang berbeda dengan BNI. Barulah terasa bahwa BNI memiliki arti penting disepanjang karirku. Menjadi  perantara gaji pertamaku, menjadi menejer keuanganku, bahkan hanya dengan menggesek kartunya ketegangan antara aku dan kasir atau pelayan restoran bisa mencair bahkan ditutup dengan 3S (senyum, sapa, salam).
Sampai saat ini saya masih berhubungan baik dengan BNI, masih mengandalkan BNI untuk membantu peredaran keuangan serta berpartisipasi dalam memeriahkan ulang tahun BNI yang ke-69. Selamat ulang tahun BNI, semoga kehadiran Anda selalu membawa berkah bagi nasabah. Aamiin..

No comments:

Post a Comment