Thursday, August 20, 2015

DEIKSIS (BAHASA DAN SASTRA INDONESIA)

BAB I
PENDAHULUAN

Sebagai diskursus baru dalam linguistik, pragmatik masih tergolong muda untuk dianalisis lebih komprehensif. Namun demikian, usaha-usaha untuk menjadikannya sebagai kajian keilmuan yang mapan dalam bidang kebahasaan terus dilakukan. Salah satu upaya itu adalah, memilah atau memberi batasan kajian antara pragmatik dan semantik. Dalam beberapa referensi disebut bahwa kajian kedua disiplin ini sama, yaitu makna atau arti. Yang dalam penjelasan selanjutnya disebutkan kalau pragmatik digambarkan sebagai ilmu yang mengkaji makna tuturan, sedangkan semantik mengkaji makna kalimat.[1] Bila tidak ada batasan yang konkret, keduanya dapat tumpang tindih dan akan menimbulkan kerancuan serta kebingungan, utamanya di kalangan mahasiswa bahasa. Oleh karena itu, pemecahan akan hal tersebut urgen adanya.
Kita mendengar, bahwa deiksis bukan lagi kajian pragmatik, akan tetapi itu kajian semantik. Pernyataan ini, sementara bagi kita, adalah teka-teki. Namun yang jelas, dalam bukunya berjudul Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, Purwo (1984:17) menyebut bahwa kajian pragmatik meliputi empat fenomena—atau dalam bahasa Purwo disebut sebagai "fenomena pragmatik"—yang salah satunya adalah deiksis.[2] Hal senada juga diungkapkan oleh Levinson (1983:27), bahwa pragmatics is the study of deixis (at least in part), implicature, presupposition, spech act, and aspects of discourse structure. Pernyataan Levinson tersebut seperti ditulis oleh Nadar.[3] Dengan demikian, tidak ragu lagi bagi kita bahwa deiksis merupakan salah satu bagian dari kajian pragmatik.
Konsentrasi kami dalam makalah ini, tentu saja bukan polemik deiksis yang telah disinggung di atas. Hal di atas, hanya sekapur sirih untuk mengantarkan kita pada pembahasan kami, yaitu macam-macam deiksis. Dalam praktiknya, kami tidak hanya akan membahas pelbagai macam deiksis itu, tetapi apa itu deiksis juga kami sampaikan. Hal tersebut untuk menghindari miskonsepsi.
BAB II
PEMBAHASAN

A.   Takrif Deiksis
Seperti ditulis oleh banyak pakar bahasa, yang antara lain Purwo,[4] Nadar,[5] dan secara tidak langsung oleh Kushartanti,[6] bahwa deiksis berakar kata deik (bahasa Yunani kuno) yang berarti "tunjuk". Antara lain dalam kata deiknumi, "menunjukkan" atau deiktitos, "hal penunjukkan secara langsung". Dengan demikian, Purwo (1984:1) seperti ditik juga oleh Nadar (2009:54) sampai pada simpulan bahwa sebuah kata bersifat deiksis jika referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung kepada siapa yang menjadi pembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu. Sedangkan Kushartanti (2007:111) menuliskan bahwa deiksis adalah cara merujuk pada suatu hal yang berkaitan erat dengan konteks penutur. Dengan demikian, masih menurut Kushartanti, ada rujukan yang berasal dari penutur, dekat dengan penutur, dan jauh dari penutur.
Dalam makalah pragmatik, Pariawan[7] banyak mengutip pengertian deiksis menurut para ahli, yaitu Cahyono (1995:217) yang menurutnya deiksis merupakan suatu cara untuk mengacu ke hakikat tertentu dengan menggunakan bahasa yang hanya dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu oleh penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan, dan Lyons (1977:637) yang ditulis ulang oleh Djajasudarma (1993:43) yang mendefinisikan deiksis sebagai lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan, atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara.
Pariawan (2008:6) juga mengutip pernyataan dari Nababan (1987:40) yang terdapat dalam Setiawan (1997:6) bahwa di bidang linguistik terdapat pula istilah rujukan atau sering disebut referensi, yaitu kata atau frase yang menunjuk kata, frase atau ungkapan yang akan diberikan. Hal rujukan semacam itu, bagi Nababan, disebut deiksis. Di samping itu, Pariawan (2008:6) pun mengutip dari Setiawan (1997:6) pernyataan Lyons (1977:638) yang mengungkapkan bahwa pengertian deiksis dibedakan dengan pengertian anafora. Deiksis dapat diartikan sebagai luar tuturan, dimana yang menjadi pusat orientasi deiksis senantiasa si pembicara, yang bukan merupakan unsur di dalam bahasa itu sendiri, sedangkan anafora merujuk dalam tuturan baik yang mengacu kata yang berada di belakang maupun yang merujuk kata yang berada di depan.
Kamus Besar Bahasa Indonesia[8] mengartikan deiksis sebagai hal atau fungsi menunjuk sesuatu di luar bahasa; kata yang mengacu kepada persona, waktu, dan tempat suatu tuturan. Dalam TBBBI,[9] deiksis adalah gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan memperhitungkan situasi pembicaraan.
Apa yang dijelaskan TBBBI, kemudian oleh Verhaar[10] diberikan contoh konkretnya, yaitu pada kalimat Suryanto pulang dan Æ mengambil makanan kecil. Tanda Æ (baca: angka nol tembus garis miring) menunjukkan ada subjek yang dilesapkan. Menurut Verhaar (1996:15), tanda Æ tersebut dalam kalimat dapat memakai kata dia. Kata dia sendiri mengacu pada Suryanto, dan hal itu dimengerti oleh pendengar karena Suryanto  telah disebut terlebih dahulu.
Dengan demikian, berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa deiksis merupakan suatu gejala semantis yang terdapat pada kata atau konstruksi yang acuannya dapat ditafsirkan sesuai dengan situasi pembicaraan dan menunjuk pada sesuatu di luar bahasa. Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa itu sendiri. Kata seperti saya, sini, sekarang adalah kata-kata deiktis. Kata-kata ini tidak memiliki referen yang tetap. Referen kata saya, sini, sekarang baru dapat diketahui maknanya jika diketahui pula siapa, di tempat mana, dan waktu kapan kata-kata itu diucapkan. Jadi, yang menjadi pusat orientasi deiksis adalah penutur.[11]
B.   Macam-macam Deiksis
Purwo[12] dalam disertasi yang dibukukannya mengidentifikasi deiksis ke dalam dua golongan besar, yaitu deiksis luar tuturan yang disebutnya deiksis eksofora, dan deiksis dalam tuturan atau endofora. Deiksis eksofora ada tiga, yaitu deiksis persona, deiksis ruang (tempat), dan deiksis waktu.[13] Sedangkan deiksis endofora meliputi anafora dan katafora.
Ajnasitas deiksis juga dipaparkan oleh Nababan (1987:40) dalam Pariawan (2008:7) yaitu deiksis orang, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana, dan deiksis sosial. Dengan demikian, ada lima deiksis. Adalah deiksis persona (orang), ruang (tempat), waktu, wacana (anafora dan katafora), serta sosial.

1.      Deiksis Persona
Deiksis persona dapat dilihat pada bentuk-bentuk pronomina. Seperti yang ditulis Kushartanti (2007:112) bahwa bentuk-bentuk pronomina itu sendiri dibedakan atas pronomina orang pertama, pronomina orang kedua, dan pronomina orang ketiga.

        Di samping itu, penutur bahasa kadang-kadang menyebut dirinya dengan namanya sendiri. Di antara penutur bahasa Indonesia, sapaan kepada orang kedua tidak hanya kamu dan Anda, melainkan juga Bapak, Ibu, dan Saudara.

2.     Deiksis Ruang
Deiksis ruang, dalam Kushartanti (2007:111) disebutkan bahwa deiksis ini berkaitan dengan lokasi relatif penutur dan mitra tutur yang terlibat di dalam interaksi. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, kita mengenal di sini, di situ, dan di sana. Titik tolak penutur diungkapkan dengan ini dan itu.
            Perhatikan contoh berikut. Si Dedy dan si Heru sedang terlibat di dalam percakapan. Dedy mengambil roti dan mengatakan, "Roti ini enak." Apa yang ditunjuk oleh Dedy, roti ini, tentu akan disebut Haru sebagai roti itu. Hal ini terjadi karena titik tolah Dedy dan Heru berbeda.
            Kita juga mengenal kata-kata seperti di sini, di situ, dan ini untuk merujuk pada sesuatu yang kelihatan atau jaraknya terjangkau oleh penutur. Selain itu, ada kata-kata seperti di sana dan itu yang merujuk pada sesuatu yang jauh atau tidak kelihatan, atau jaraknya tidak terjangkau oleh penutur.
Dalam hal tertentu, tindakan kita sering kali bertalian dengan ruang (tempat). Jika kita hendak menunjukkan bagaimana cara mengerjakan sesuatu, misalnya, kita memakai kata begini. Jika kita hendak merujuk kepada suatu tindakan, kita memakai kata begitu.

3.     Deiksis Waktu
Seperti ditulis Kushartanti (2007:112-113), deiksis waktu berkaitan dengan waktu relatif penutur atau penulis dan mitra tutur atau pembaca. Pengungkapan waktu di dalam setiap bahasa berbeda-beda. Ada yang mengungkapnya secara leksikal, yaitu dengan kata tertentu.
            Misalnya kata sekarang; tadi dan dulu; nanti; serta hari ini, kemarin dan besok. Sekarang mengungkapkan waktu kini. Tadi dan dulu untuk waktu lampau, nanti untuk waktu yang akan datang. Hari ini, kemarin, dan besok juga merupakan hal yang relatif, dilihat dari kapan suatu ujaran diucapkan.[14]
             
4.     Deiksis Wacana
Deiksis wacana ialah rujukan pada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diberikan atau sedang dikembangkan (Nababan, 1987:42) seperti ditik ulang oleh Pariawan (2008:13). Deiksis wacana mencakup anafora dan katafora. Anafora ialah penunjukkan kembali kepada sesuatu yang telah disebutkan sebelumnya dalam wacana dengan pengulangan. Katafora ialah penunjukan ke sesuatu yang disebut kemudian. Misalnya, (a) Syarifah belum mendapat pekerjaan, padahal  ijazah sarjananya sudah didapatkan dua tahun yang lalu dan (b) Karena aromanya yang khas, durian itu banyak dibeli.
Dari kedua contoh di atas dapat kita ketahui bahwa -nya pada contoh (a) mengacu ke Syarifah yang sudah disebut sebelumnya, sedangkan pada contoh (b) mengacu ke durian yang disebut kemudian.[15]

5.     Deiksis Sosial
Nababan (1987:42) menggeneralisasikan deiksis sosial sebagai suatu rujukan yang dinyatakan berdasarkan perbedaan kemasyarakatan yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar. Perbedaan itu dapat ditunjukkan dalam pemilihan kata. Dalam beberapa bahasa, perbedaan tingkat sosial antara pembicara dengan pendengar yang diwujudkan dalam seleksi kata dan atau sistem morfologi kata-kata tertentu, seperti ditulis kembali oleh Pariawan (2008:13).
Dalam bahasa Sunda umpamanya, memakai kata neda dan kata dahar (makan), menunjukkan perbedaan sikap atau kedudukan sosial antara pembicara, pendengar dan atau orang yang dibicarakan/bersangkutan. Secara tradisional, perbedaan bahasa (variasi bahasa) seperti itu disebut tingkatan bahasa. Dalam bahasa Sunda, ada bahasa Sunda halus dan bahasa Sunda kasar. Praktiknya, bahasa Sunda halus itu ada yang untuk di bawah kita, untuk sesama, dan di atas kita dari segi usia, dan hirarki kekeluargaan. Aspek berbahasa seperti ini disebut kesopanan berbahasa atau etiket berbahasa. Dengan kata lain, deiksis sosial mengacu pada kesopanan berbahasa.[16]


Semakin ilmu itu digali, maka semakin banyak yang tidak kita ketahui, begitulah pepatah mengatakan. Semoga kita terpicu untuk terus maju dan tidak lekas menyerah pada keadaan. Sukses!



[1] Lihat Tim Balai Penelitian Bahasa, Bunga Rampai Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra Volume 1 (Ujung Pandang: Depdikbud, 1999), h. 68.
[2] Ibid., dalam Bunga Rampai Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra Volume 1 itu disebutkan bahwa Purwo (1990) menyebut pragmatik menjelajahi empat fenomena, yaitu deiksis, praanggapan, tindak tutur, dan implikatur percakapan.
[3] F.X. Nadar, Pragmatik dan Penelitian Pragmatik (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), h. 53.
[4] Bambang Kaswanti Purwo, Deiksis dalam bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), seperti yang terdapat dalam kata pengantar, h. vii., dan h. 2.
[5] Nazar, Pragmatik dan Penelitian Pragmatik, h. 54.
[6] Kushartanti, "Pragmatik," dalam Kushartanti. dkk., ed. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007), h. 111.
[7] I Wayan Pariawan, "Deiksis," (Makalah Pragmatik Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, 2008), h. 5-6.
[8] Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 245.
[9] Hasan Alwi, dkk., Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa dan Balai Pustaka, 2003), h. 42.
[10] J.W.M. Verhaar, Azas-azas Linguistik Umum (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), 14-15.
[11] Simpulan ini senada dengan apa yang dipaparkan oleh Bambang Kaswanti Purwo, dalam disertasi S3 beliau yang kemudian dibukukan dengan judul Deiksis dalam bahasa Indonesia, h. 1., namun, bila kita membaca buku aslinya akan tahulah bahwa shifters merupakan istilah lain yang digunakan oleh Sturtevant (1947:135-136) dan Jespersen (1949:123-124) untuk menyebut istilah deiksis. Akan tetapi, istilah ini kemudian tidak dipakai karena menurut Purwo, shifters, mencakup pengertian yang lebih luas (h. 2).
[12] Purwo, Deiksis dalam bahasa Indonesia, h. 19., dan h. 103.
[13] Lihat pula dalam Kushartanti, "Pragmatik," h. 111-112.
[14] Baca juga Alwi, dkk., Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, h. 42., dan untuk lengkapnya perihal deiksis persona, deiksis ruang, dan deiksis waktu silahkan baca Purwo, Deiksis dalam bahasa Indonesia, h. 21-59.
[15] Ibid., Purwo, h. 103-111.
[16] Seperti ditulis ulang dari Pariawan, "Deiksis," h. 13., dengan perubahan.

No comments:

Post a Comment